Akhir-akhir ini kalau anda sekalian rajin surfing di internet, ikut milis-milis tentang apapun, atau bahkan membuka Koran nasional *bukan Koran lampu merah atau tabloid infotainment ya, catet!*, anda saya pastikan *PD amat* akan sering menemukan pengumuman rekrutmen CPNS dimana-mana. Dari milis kampus saya saja saya sudah membaca paling tidak 5 atau bahkan lebih lowongan CPNS. Contohnya adalah lowongan Departemen Luar Negeri, Departemen Perdagangan, BPK, BPKP, Departemen Perindustrian, dan bahkan Bank Indonesia, yang pegawainya sebenernya tidak berstatus PNS juga sih :p *yang terakhir ini mau tidak mau membuat saya agak melirik dan menyempatkan untuk membaca dengan cermat
*, saya belum menghitung Pemerintah Daerah loh! *termasuk Pemda Jakarta yang kalau tidak salah belum ditutup application term-nya*. Bahkan saat ini saya juga sedang diuber-uber boss saya untuk menyelesaikan berbagai tetek bengek terkait rekrutmen CPNS di kantor saya *oh ya, saya juga kebetulan PNS, public servant, di salah satu instansi pusat*.

KORPRI *yang saya ndak punya seragamnya :p*
Instansi-instansi tadi *termasuk instansi saya juga sih :p* bukannya lagi lomba cepet-cepetan rekrut pegawai baru, tapi ini terkait dengan pemberkasan nasional CPNS baru yang oleh BKN ditetapkan akan dilaksanakan awal Desember ini. Makanya jangan heran kalau banyak instansi, yang *entah dengan pertimbangan seperti apa* merasa membutuhkan tambahan personil dalam organisasinya untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas pokok dan fungsi instansi masing-masing, rame-rame melakukan rekrutmen CPNS baru.
Kesempatan ini pastinya hal yang sangat menguntungkan bagi para fresh graduate-r seperti beberapa teman saya yang wisuda bareng saya hamper 2 bulan yang lalu *ohya, saya sudah wisuda loh!:hammer:*, para angkatan kerja yang sebenarnya bukan fresh graduate tapi bercita-cita mengabdi kepada Negara, dan bahkan bagi konsultan-konsultan yang menyediakan jasa pendampingan rekrutmen.*tapi bagi saya ini jelas kurang menguntungkan karena jadi agak sedikit mumet kecuali ya pengumuman yang saya bilang bikin sedikit melirik tadi
*.
Lagi-lagi saya hampir bisa menjamin *dasar sotoy :hammer lagi:* kalau lowongan-lowongan tadi pasti dibanjiri peminat. Apa pasal?aah saya juga tidak bisa menjawab secara pasti, tapi kalau saya berhipotesa ria, sekedar untuk menyusun kajian asal-asalan di blog saya daripada tidak pernah diisi kan ya tidak ada salahnya to? :p.
Menurut saya *yang sok tau ini*, ini terkait erat dengan budaya masyarakat kita. Kebanyakan masyarakat kita menganggap bahwa status seorang abdi Negara itu tinggi di masyarakat, kalo orang kampung saya bilangnya priyayi, oleh sebab itu banyak orang yang bercita-cita untuk menjadi PNS *atau juga bercita-cita punya anak dan atau mantu PNS*.
Selain itu, tingginya minat atas posisi PNS ini *lagi-lagi cuma menurut saya loh*juga dipengaruhi oleh risk appetite atau risk preference dari masyarakat kita. Masyarakat kita masih cenderung berdiri di posisi risk averse, play save, dengan berbagai pertimbangan seperti kondisi Negara, ketidakpastian di masa depan, keamanan, dan lain-lainnya yang saya belum tau karena tidak sempat nanya-nanya juga. Padahal harusnya mayarakat kita mulai dikenalkan dengan prinsip risk return trade off yang merupakan salah satu axiom dasar manajemen keuangan *ah saya lupa, ndak semua pernah diajarin manajemen keuangan*, risiko yang tinggi *harusnya* diimbangi dengan pengembalian yang tinggi pula, hal ini vice versa juga dengan relative rendahnya risiko profesi PNS dengan tingkat pendapatan yang relative rendah *tapi ndak berlaku untuk beberapa departemen tertentu dengan system remunerasi baru juga sih
*.
Ada lagi sebab yang lebih parah lagi, yaitu terkait dengan PNS sebagai patokan kesuksesan seseorang. Kalau ada orang yang mempunyai definisi bahwa sukses sama dengan PNS, dan ternyata orang yang seperti ini ndak Cuma satu atau dua, ya pastinya setiap ada rekrutmen CPNS pasti langsung kebanjiran peminat. Mungkin salah satu contohnya adalah orang tua saya, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau walaupun saya sendiri kadang kurang setuju *beda pendapat kan ndak dilarang to*, yang sedikit banyak juga menganut paham ini. Jadinya tidak heran ketika saya pernah sedikit saja nyeletuk saja mau pindah ke sektor private kalau ada tawaran yang menjanjikan tingkat pengembalian *yang tidak hanya dalam bentuk materi, tapi lebih ke pencapaian aktualisasi diri* yang lebih menarik, mereka langsung berkeberatan. Dan bahkan adik saya yang sudah dengan susah payah berhasil masuk teknik sip**, fakultas impiannya, di IT*, yang juga universitas impiannya, harus rela melepaskannya karena, seperti saya >..<*, eh bukannya saya mendiskreditkan almamater sendiri loh, saya yakin almamater saya bagus, Cuma dalam kondisi ini adek saya pasti berpendapat fakultas impiannya di universitas impiannya merupakan prioritas yang lebih tinggi dari pada almamater saya yang juga cita-cita orang tua saya *bingung ndak baca deskripsi saya?:LOL:*. Tapi karena definisi sukses versi orang tua saya sama dengan jadi PNS, ya hal ini akhirnya menjadi harga mati bagi kami yang bagaimanapun juga setengah mati ingin menyenangkan orang tua dan salah satunya menjadi sukses di depan mereka.
Pandangan sebagaimana tersebut dalam paragraph di atas *walah, bahasa saya birokratis banget :LOL:*, ternyata tidak hanya dianut oleh orang tua saya, beberapa teman saya juga mengeluhkan hal yang sama. Bahkan ada salah satu teman saya yang menurut saya punya pertimbangan yang sangat logis dan rasional untuk keluar dari korps, akhirnya juga harus menghadapi dilemma karena orang tuanya sangat menentang rencana tersebut.
Bukan berarti saya anti PNS loh *orang saya sendiri PNS*, Cuma saya sempat berandai-andai, kalau saja postur birokrasi kita nantinya jauh lebih ramping daripada sekarang, dengan jumlah PNS yang jauh lebih sedikit tapi juga jauh lebih sangkil dan mangkus *efektif dan efisien kalu tidak pernah dengar*, pastilah kualitas pelayanan public jauh lebih bagus. Selain itu bayangkan apabila alih-alih pengen menjadi PNS semua, orang-orang mulai berfikir untuk menjadi wirausahawan, hal tersebut pastinya bisa lebih baik untuk membangun ekonomi mikro dan makro kita toh, daripada jadi PNS…ya kalau semua mau jadi PNS, jadi pelayan public, terus siapa yang mau dilayani
.
Aduh, saya kok ya jadi suudzon subuh-subuh begini. Saya lupa satu alasan penting yang sangat mungkin mendorong banyak pelamar untuk jadi PNS, semangat untuk mengabdi pada Negara. Kalau memang hal ini yang jadi alasan utama, setidaknya saya juga masih bisa tersenyum dan optimis kualitas pelayanan public di masa depan bakal jauh lebih baik. Ya semoga saja benar
.
Jadi buat anda yang mungkin iseng baca tulisan *yang ternyata kalau dilihat panjang juga* ini, dan juga kebetulan sedang mempertimbangkan dan bahkan sudah mendaftar buat jadi PNS, saya doakan anda sukses dan diberikan Gusti Pengeran yang terbaik. *Sementara saya juga sedang menunggu perkembangan hasil lirikan mata saya tadi ekekekekekeke*