Feeds:
Posts
Comments

Sketsa I:

Personal budget: daily operating expense

  1. Transportasi : Rp. 25.000
  2. Konsumsi       : Rp. 50.000
  3. Miscellanous: Rp. 20.000

Total daily expenditure (in average) Rp. 95.000

exclude: biaya bulanan e.g kost, grocery shopping, dll

conclusion: saya menjalani hidup biaya tinggi :nohope:

======================================================================

Sketsa II

Adek : ATM aku ga bisa, gara2 ganti PIN jdnya br bisa dipake seminggu lagi

Saya : Uangnya tinggal brapa??

Adek : 100rban

Saya : Masih cukup sampe brapa hari biasanya?

Adek : semingguan lah

Saya : *speechless* —*bandingin ama pengeluaran pribadi*—*tepok jidat*

=======================================================================

saya sudah lupa kapan terakhir kali bisa mengatur pengeluaran harian saya se-efisien yang dilakukan adek saya. Biaya adek saya seminggu saat ini hampir sama dengan biaya yg saya habiskan dalam sehari, padahal kita sama2 di Jakarta, walau memang adek saya tinggalnya di deket kampus which is make everything become waaay cheaper drpd standar harga di lingkungan saya. Tapi ya…bandingannya itu loh, sehari sama seminggu!! >.< *tepok jidat lagi*.

kadang saya mikir, apa iya saya aja yg boros, menjalani hidup dg standar biaya tinggi. Memang sih, pendapatan saya jauuh lebih besar daripada jaman kuliah dulu *secara menggantungkan diri dari kiriman emak plus sedikit tambahan hasil ngajar les privat kadang2*, tapi pertambahan pendapatan tadi dengan sukses diimbangi pertambahan pengeluaran saya *yg mungkin bahkan lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan??*.

Saya jadi mikir, kapan ya law of diminishing return terhadap kenikmatan yang bisa digenerate oleh uang bakal terjadi bagi saya??? masak iya nunggu sampe setajir si oom satu ini, eeeh…tapi bahkan si oom juga belum mengalami law of diminishing return ya???buktinya masih suka ngemplang.

Aaaah memang manusia :|

Human needs are seems to be unlimited, while there are a limited resources to fulfill those needs, thus we call it as a scarcity — the law of scarcity

Chaotic

order and chaos

My friend said that Life is either a chaotic order or an organized chaos. well i won’t taking side. for me, life is a chaos, whether it is organized or not, in order or in random. My life has always been chaotic , and i think would always be a chaotic one.

Saya sepertinya memang sudah terbiasa dengan kekacauan, kekacauan-kekacauan tadi bisa jadi datang dengan suatu urutan tertentu dan kadang bisa pula teratur membentuk suatu pola dan berakhir pada suatu ujung yang tak pernah saya duga. Ah, God always works in a mysterious way, pefectly. Saking terbiasanya dengan kekacauan saya merasa bahwa mungkin definisi saya terbalik, saya menganggap kacau adalah teratur, chaotic is the new word of order for me. Keseimbangan hidup saya berasa goyang ketika saya diharuskan untuk menghadapi hal yang rutin dan teratur, membuat saya merasa bahwa semuanya berkonspirasi untuk menjatuhkan saya *lebaayyy*.

Saat ini saya merasa sedang dipaksa untuk menghadapi keteraturan yang membuat saya merasa…hey…this is not my world. Saya tidak biasa. Saya rindu tumpukan kerjaan yang semuanya berembel-embel predikat SEGERA [dan kadang rahasia], saya rindu bekerja sampai tengah malam dan merasa hampir gila dengan ditemani secangkir kopi, dan lebih banyak saya rindu mengutuki banyaknya kerjaan kemudian tersenyum lega ketika akhirnya bisa menyelesaikannya SESUAI dg tenggat waktu [yang artinya tidak akan lebih cepat :P ] hanya untuk kemudian bertemu dengan tumpukan disposisi lain.

Saya sangat merindukan maraton kuliah malam dan weekend, berderet2 daftar tugas yang absurd dan membuat saya mesti pintar2 menyelipkan sedikit waktu disana dan disini, di sela2 jam kerja dan di kala orang lain terlelap tidur hanya untuk menyelesaikannya. Dan bahkan saya sangat rindu dengan deadline skripsi, hari2 yang saya habiskan hanya dengan tidur 1 sampai 2 jam sehari hanya demi suatu pencapaian berupa tambahan nama di belakang nama saya. Tapi curiganya, saya rindu merasa bahwa saya bisa melalui itu smua dan saya baik-baik saja.

Saya sangat merindukan ketika saya dengan susah payah bisa meluangkan sedikit waktu hanya untuk sekedar berkumpul bersama teman-teman saya, yang sangat jarang saya lakukan, tapi ketika saya punya kesempatan begitu terasa menyenangkan. Saya bahkan dengan ajaibnya merindukan masa-masa dimana saya sangat menginginkan masa seperti ini, dimana saya bisa pulang tepat waktu, tanpa ada beban pikiran bahwa saya harus menyelesaikan ini dan itu, harus kuliah, harus mengerjakan tugas ini.

Namun saya ini memang manusia yang tidak ada puasnya. Ketika Tuhan mengijinkan saya mendapat kesempatan untuk sedikit bersantai, saya malah merasa, tidak nyaman. Mungkin karena saya tidak terbiasa, ya, saya tidak terbiasa dengan keteraturan. Saya adalah orang kacau yang terbiasa dengan kekacauan. That’s why chaotic is normal for me :)

Aaaah, saya selalu saja jadi saya yang tidak pandai bersyukur, selalu mengeluh. Harusnya saya bisa menikmati setiap kesempatan yang diberikan Tuhan kepada saya. Jadi…sebaiknya saya akhiri saja racauan saya kali ini, sebelum saya menambah daftar keluhan saya.

Meanwhile, i’ll be sitting here, waiting for the next chaos to come, or maybe thrown myself into another chaos possibility, we’ll see then. :)

[maunya]HDR-an

lagi ketagihan sama HDR imaging, apa itu HDR?liat di sini aja ya, lagi males nulis *dijumroh masa*. Yang jelas, kalau yg ambil gambar bener dan oldig-nya bener, HDR bisa bikin gambar yang super duper cool!!seperti ini:

[gambar lain bisa diliat di sini]

Kebetulan salah satu teman saya pernah ngasih software ReDyNaMix HDR, ini software add-on di photoshop CS (2 atau 3) yang bisa ngasih efek HDR ke sebuah foto (biasanya HDR image dihasilkan dari beberapa foto biasanya 3 atau 5 obyek yg sama yg diambil pada eksposur berbeda). Saya udah dapat lama, tp berhubung saya ini pemalas *jedotin kepala ke monitor* jadinya saya jarang ngedit foto pake sotosop :P *saya lebih suka pake adobe lightroom yang lebih praktis*.

Beberapa hari ini saya sedang terserang sindrom malas dan susah konsentrasi. Akhirnya saya iseng-iseng buka sotosop buat ngedit stock2 foto lama. Saya edit pake ReDyNaMix tadi, dan hasilnya….saya ketagihan!:lol:

Here’s are some of the result, i hope you enjoy it *sy cm bisa pake evaluation version krn ga punya crack :cry: , jdnya di tiap foto ada watermark si ReDyNaMix deh :( *

hahahahaha saya masih punya banyaaak lagi, tp saya cukup tau diri bahwa ini cukup makan benwit, dan saya menyadari pasti banyak fakir benwit di luar sana *seperti saya*, jadi cukup ini saja pamernya *digaplok*.

Selamat sore smua, smoga weekend anda menyenangkan :)

wishful thinking

sudah dibukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!


iyah…di sini nih

jadi deg-degan >.<

need to organize everything up

doakan sayaaah *finger crossed*

No, it have no relationship with the previous post *rrrr unless the picture :p*

You know i always fall in love with photography, especially portrait photography. I love to capture human expression, i just love them, it could be priceless, and of course by freezing an expression onto a photograph, it would make it timeless :)

Regarding my preference, i always love wedding photography, nearly compete with my love to children photography. There’s some wedding photographer blogs that keep captivating me and always make me give a long “aaaah”, “wooooow”, “greaaaaat”, “yaaayyyy!!!”, “cooool”, “awesooomeee” shouts. Some of them of course boutwell, becker, jose villa, jessica claire, jasmine*, matthew saville, mark&brooke, and many more. *funny how, i found out that they were connected, and mostly based in OC!i bet the manage the blogsphere’s trend very well, awesome!*.

Enough to say about what i like, but those things make me dream that somehow i would do some wedding photography, not for commercial use of course, i just want to do it hahaha, you can call it as self satisfaction need :lol: . Due to the lack of gear, i really understand that i would never ever make a picture that could even closely good enough to be compared with what the photogs above could produce. But hell, i still want to do it :lol:

And my chance come when my bestie Almy got married a couple weeks a go :)

Here’s what i got from the wedding, sorry for the lack of quality. It just me who try to fulfill my curiousness ;)

Mancha doing the akad

Mancha doing the akad

Prayer

The groom and the bride during the prayer procession

the ring!

the ring!

Sungkeman

Sungkeman

Mom's tears

Mom's tears

The bride

She's adorable :)

i know some of them are off-focus, some other not sharp, and other some others are not in the fit metering set up :P . But i do still glad that i’ve done that :D

Besides, i’m just an amateur, and don;t get payment from this…so it’s kinda make me feel guilt-free if the picture is just not what i want to be :lol:

Kapan Kamu Nikah?

who doesn’t long for someone to hold

who knows how to love you without being told

somebody tell me why i’m on my own

is there a soulmate for everyone?

Suara mba natasha bedingfield menemani sayah di tengah kebengongan mencari inspirasi untuk menyelesaikan tugas kantor. Entah karena terlalu menghayati lagunya mba nat ato entah karena saya kesambet setan lewat sedang tidak konsen, pikiran saya jadi melayang-layang  ga karuan *apa kabar inspirasi??*

Saya jadi berfikir tentang konsep soulmate, belahan jiwa bahasa kerennya. Sudah digariskan bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, dan sebagai seorang yang saya kira cukup spiritualis *walau mungkin anda menilai tidak cukup agamis* saya 100% percaya dengan konsep itu tentu saja. Dalam tatanan ideal pastinya sepasang soulmate tadi disatukan ke dalam suatu ikatan pernikahan, walau mungkin untuk beberapa orang tatanan ini tidak menjadi suatu keharusan. Mungkin hal ini yang menjadikan pernikahan menjadi suatu poin yang sangat esensial dalam lingkungan masyarakat kita, dan itu sebabnya pula hal ihwal tentang pernikahan salah seorang anggota masyarakat seringkali dianggap menjadi domain dari banyak orang dalam masyarakat itu yang kadang sering juga menimbulkan tekanan bagi pihak-pihak tertentu. *aaw aaw…bahasaku terdengar keren :P *

image from: the wedding of amy and manchaKapan nikah?mungkin adalah pertanyaan yang sangat kondang di telinga-telinga para insan yang dianggap cukup umur untuk menikah dan membangun biduk rumah tangga *caelah* namun masih memilih untuk hidup melajang. Namun demikian berapa batasan umur yang dianggap “pantas” tadi, sangat bervariasi tergantung dengan kultur dan lingkungan dimana kita tinggal. Tapi, walau batasan tentang kecukupan umur untuk menikah tersebut sangat bervariasi dan agak mustahil kalau mau disebutkan secara pasti, saya yakin, banyak sekali manuasia di luar sana yang saat ini dilabeli “sudah cukup umur untuk menikah“.

Salah satu dari sekian juta lajang yang punya label cukup menikah yang ada di dunia itu tadi tentunya adalah sayah! *walau saya sendiri juga tidak mengerti kenapa saya ikut-ikutan dilabeli seperti itu, faktor umur?faktor kebiasaan?faktor kepantasan?*. Masih jelas di ingatan saya *soalnya baru 2 minggu kemaren, kalo lebih mah jangan harap bakal inget* doa atau harapan yang paling laris dihadiahkan orang-orang di ulang tahun saya yang ke-24 *oh gosh, i’m old and rotten :cry: * adalah “semoga jodohnya dekat”, “semoga cepet menikah”, “semoga cepet ketemu jodoh”, and so on, and so on. Bahkan ayah dan ibu saya dengan sangat takzim mendoakan agar anaknya ini SEGERA mendapatkan jodoh yang terbaik dan bisa mengerti serta menerima anaknya apa adanya *yang saya hanya bisa mengamini saja*.

Well, sebagai orang yang selalu mencoba untuk terbuka dengan pikiran orang-orang, saya menempatkan diri untuk menerima pendapat orang-orang tersebut dan merasionalisasikannya dengan daya nalar yang saya punya. Saya sedikit banyak paham, setidaknya dengan kultur lingkungan saya saat ini, orang-orang mempunyai suatu standar kriteria tertentu untuk bisa mengklasifikasikan seorang anak manusia sudah atau belum pantas untuk menikah. Posisi saya saat ini yang SUDAH 24 tahun, punya pekerjaan yang settle, dengan salary yang tidak bisa dibilang banyak namun alhamdulillah selalu cukup, sudah lulus S1 *oh come on, saya kan juga pengen nyicipin master ato bahkan kalo bisa doctoral degree :disambit emak pake sapu:*, cukup bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta telah cukup lama hidup mandiri termasuk didalamnya secara financial, membuat orang-orang men-cap saya pantas untuk segera menikah. Namun apakah hal-hal tadi lantas otomatis membuat saya BENAR-BENAR siap menikah?.

Saya sepenuhnya menyadari bahwa saya mungkin sedikit berbeda dengan teman-teman wanita saya pada umumnya. Kketika mereka sedang bermimpi nantinya akan menikah dengan orang terkasihnya dan membangun keluarga bahagia sampai akhir masa, saya malah sedang asik memikirkan nantinya saya mau menjalani karir sebagai siapa. Di saat teman-teman saya sedang sibuk berusaha mewujudkan mimpinya tadi dan atau bahkan banyak yang sudah terwujud, saya malah sedang sibuk memikirkan bagaimana cara saya bisa memenuhi my so-called-higher-education-need-in-the-name-of-self-actualization. Keadaan-keadaan tadi yang membuat pikiran tentang pernikahan terasa jauh dari jangkauan saya :P .

Namun toh dengan seiring bertambahnya kedewasaan *ditabok*, saya juga berkesimpulan bahwa ada baiknya saya mendengarkan pendapat banyak orang. Mungkin memang benar sudah semestinya saya MULAI berfikir tentang mencari soulmate dan pernikahan, maksudnya apa salahnya toh. Namun ketika saya dipaksa untuk mulai berfikir tentang pernikahan, saya sampai pada kesimpulan bahwa menikah itu bukan hal yang sederhana, menikah itu rumit.

Bukan, saya bukannya mau membuat alasan terkait dengan kesiapan materi, kesiapan psikologis *biarpun yang ini penting juga sih* dan segala alasan yang katanya klise itu. Tapi bagi saya yang lebih rumit lagi adalah bagaimana menemukan soulmate-nya tadi. Bagi saya, pernikahan merupakan komitmen seumur hidup biarpun perceraian merupakan hal yang legal *tapi ya siapa yang niat nikah trus nantinya mau cerai, kecuali nikah kontrak macam sinetron di TV2*, jadi ketika saya menikahi seseorang itu berarti saya harus siap untuk hidup bersama orang itu sampai habis masa kontrak saya di bumi. Untuk bisa membuat komitmen sebesar itu yang diikat di kontrak seumur hidup *kontrak karya aja kalah*, saya perlu memastikan bahwa saya sudah memilih partner yang tepat, yang kompatibel buat saya, jadi nantinya kedua belah pihak bisa menjalankan kontrak tanpa takut akan ada wanprestasi *ditabok*.

Teori bagaimana menemukan partner yang tepat tadi juga kalau dikaji dari pengalaman-pengalaman yang ada susah dicari suatu kesimpulan yang bisa ditarik menjadi teori *bahkan hipotesa pun susah juga membuatnya*. Bagi beberapa orang yang terbekati, mereka bisa dengan sangat mudah tanpa ada tanda-tanda apa2 sebelumnya secara tiba-tiba *hasyah* bertemu dengan soulmatenya dan membuat suatu perfect happy ending together *i call it some other great luck*. Tapi ada beberapa orang juga yang sudah berusaha mati-matian dan sampai saat ini belum juga menemukan yang tepat *i call it as your turn is not yet to come :P *. Tidak ada yang bisa memastikan kapan bisa ketemu, dimana, dan dengan cara apa biar bisa ketemu.

And since i’m very aware that somehow i am a little bit different with others :lol: , maka ya saya mau ga mau harus bisa nerima dong kalo buat nyari yang kompatibel sama sayah itu agak susah. Well maybe you would call me as picky, but believe me i don’t, i don’t even have some specific criteria, all that i’m looking for is just a good connection, that’s it, ya itu tadi, kompatibilitas gitu. I’ve tried to built many connection, but when you feel like you just can’t work it out, yah kenapa harus dipaksa kan yah….ibaratnya voltasenya beda kalo dipaksa dicolokin juga yang ada malah jeblug.

But i still believe, that he must be somewhere out there, searching for me, or maybe waiting for me to find him, or waiting for the time when we finally could meet each other and write our own history. But until those time has come, believe, i could not help anything to answer your “kapan menikah” kind of question.

So if you want an answer, then i’ll give you my statement, jadi yah bapak ibu, saudara, kalo ada lagi *yang pastinya banyak sayah yakin* yang nanya “dek/mbak tyas kapan menikah?”, jangan bosan yah kalo saya jawab nanti kalau sudah ketemu jodohnya. Karena memang itu kok faktanya, dan saya juga bukan orang yang anti-marriage or commitment-phobia, when the time has come, when i find the fit one, i wont postpone anything and just let it flow. Beside that, as i always say, sayah ini bukan tipe orang yg menyusun rencana, tapi saya orang yang menyusun alternatif, dan kalau anda nanya ke saya alternatif pilihan saya untuk ke depan apa saja?saya bisa bikin list yang panjangnya naudzubillah :P . Jadi bisa aja kalau tiba-tiba ga ada angin ga ada petir saya tiba-tiba kirim undangan pernikahan ke anda sekalian, asal saya sudah ketemu jodoh saya. Tapi sebelum waktu itu datang, saya hanya ingin menjalani hidup saya apa adanya dengan tanpa dibebani tekanan “kapan menikah?” tadi, sambil tentu saja mencari kesempatan untuk dapat “higher education” tadi sih :lol: .

jadi….kalau anda, kapan mau menikah?:wink-wink:

Here we are again, circle never ends, how do i find the perfect fit?

there’s enough for everyone, but i’m still waiting in line

Lyrics by: Natasha Bedingfield-Soulmate
Photo: personal documentation

25

Sometimes i angry to you

when you don’t understand what i wanna do

or what i wanna say

Sometimes i hate you

When you keep checking me all the way

Sometimes i push you away

When you hold me tighter

or try to decide what i supposed to do

but those sometimes seems meaningless

because i know, i love you all the time :)

Happy 25th anniversary dear mom, dad….

thanks for being our guardian

thanks for giving us shelter…and a place to called home

thanks for giving us chance to become who we really are

and most of the time

thanks for being YOU and making it posibble to being US

US

aaaah…

but i always envy you…

for loving each other like this

My two loving person

Hope there would be another 25 years…

and other 25 years

till God set us apart, amin.

 

P.S dan sungguh, aku mencintai kalian karena Allah

Hobi kok ML

Akhir-akhir ini saya agak kesentil soal seringnya pemadaman listrik yang dilakukan oleh PLN. Walaupun untungnya saya yang tinggal di Jakarta Pusat dan kebetulan berkantor di daerah ring satu tidak terlalu sering “kebagian jatah” ML alias Mati Lampu [tapi pernah loh kantor saya mati lampu, sekali, minggu lalu, kalo ring satu ML harusnya di istana presiden juga ikutan ML, ato paling ndak kedubes AS, balai kota, kantor wapres, dan lemhanas yang kebetulan sederet dengan kantor saya juga ikutan mati :rollingeyes:].

Hobi baru PLN buat ML ini pastinya membuat pelanggan kesal bukan main. Akhir2 ini sering saya membaca status facebook teman-teman saya yang secara berjamaah mekritik pihak PLN mulai dari tingkat yg halus [e.g terimakasih ya PLN] sampai yang kasar [e.g dasar Perusahaan Lilin Negara] bahkan kadang disertai ilustrasi seperti gambar berikut yang saya dapat dr salah satu teman saya di jejaring maya tersebut:

Perusahaan saingan PLN??

Itu baru teman-teman saya yang kebetulan tinggal di Jakarta yang pastinya jarang-jarang kebagian ML. Coba bayangin teman2 di luar pulau Jawa sana yang konon kabarnya sering dapat jatah ML ini. Ndak heran tadi pagi saya liat berita ada mahasiswa di NTT demo ke PLN karena PLN melakukan pemadaman bergilir seminggu sekali masing-masing 6 jam di malam hari [kalau saya ndak salah ingat berita nih ya].

Tapi apa iyasih PLN itu segitu jeleknya?coba kita bikin kajian sederhana [maaf kalo fakta kurang kuat dan ada salah data, namanya juga kajian sederhana :P ]. Bukan bermaksud membela PLN karena mentang2 saya lagi nguli di instansi yang katany wakil pemegang saham PLN ya, cuma syahdan yang saya dengar, hobi baru PLN ini disebabkan oleh rusaknya travo-travo pembangkit listrik milik PLN karena selama ini digunakan melebihi kapasitas. Konon kabarnya, saya pernah mendengar cerita dari orang yang dekat dengan sumber terpercaya bahwa travo travo yang ada digunakan maksimal 60% kapasitasnya untuk menghindari adanya overload. Namun karena adanya tuntutan kebutuhan, travo-travo PLN tersebut “dipaksa” untuk bekerja sampai dengan 90% kapasitasnya untuk masing-masing travo. Bayangkan saja, mesin yang dipaksa untuk bekerja diatas kapasitas maksimum pasti lama kelamaan mengalami breakdown bukan?bagi yang pernah belajar manajemen operasi [saya cuma dapat C+, merusak pemandangan transkrip :cry: ] tentunya tau bahwa breakdown maintenance ini bisa menimbulkan cost yang jauh lebih besar daripada bila mesin itu kita pergunakan dan dirawat sebagaimana mestinya. Ndak cuma cost dari perawatannya saja, bayangkan cost2 yang lain, kerugian di sektor-sektor industri, mulai dari yang besar sampai kecil, ketidakpuasan pelanggan, terganggunya penyediaan kepentingan publik, dll. Hal ini yang sedang terjadi saat ini, syahdan si travo-travo tadi “ngambek” soalnya disuruh bekerja bagai kuda terus-terusan, akhirnya meledug deh!. Kemarin sempat saya dengar dari berita juga kalo Bapak Menteri ngendiko, Desember travo-travo tersebut sudah selesai dan siap bekerja seperti sedia kala [bagai kuda lagi??wallahu'alam], ya mari kita tunggu sampai Desember.

Jadi sampai sini agak-agak ada sedikit pencerahan to kanapa si PLN lagi hobi ML?. Nah pertanyaannya, kalo si PLN sadar sebabnya begitu, knapa slama ini membiarkan saja alat-alat produksi utamanya bekerja di luar kapasitas maksimal??. Wahai saudara-saudara, ketahuilah bahwa PLN itu salah satu BUMN yang melaksanakan penugasan negara yang disebut sebagai PSO, Public Service Obligation. Penugasan ini pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari pasal 33 dimana kegiatan yang menguasai hajat hidup orang banyak, yang dalam hal ini penyediaan energi listrik, dilaksanakan negara. Dalam pelaksanaan PSO, pelanggan yaitu masyarakat, membayar jasa PLN sebesar tarif yang ditentukan oleh pemerintah yang selama ini kita kenal dengan TDL [tarif dasar listrik]. TDL yang kita bayarkan setiap bulan itu sebenarnya masih di bawah cost yang harus dikeluarkan oleh PLN sebagai produsen, untuk sektor rumah tangga saja, TDL yang berlaku saat ini kalau dirata-rata sekitar Rp.322/kWH [lengkapnya lihat di sini] bandingkan dengan TDL yang berlaku di negara si paman di sini yang rata-rata 11.22 cent/kwh atau sekitar Rp. 1100. Terus bagaimana si PLN mau hidup kalo cost-nya jauh lebih kecil dari revenue?. Teorinya, dalam PSO, pemerintah sebagai pihak yang berkewajiban untuk menjamin terselenggaranya hajat masyarakat , akan membayar margin tertentu untuk menutupi kerugian tadi. Besarnya margin tadi harus memberikan keuntungan bagi si perusahaan sehingga menjamin ke-going concern-an si perusahaan. Apa hal ini dilaksanakan?aturannya sih begitu, tapi wahai saudara, tahukah bahwa pemerintah kita berhutang konon sebesar RP. 75 Trilliun kepada PLN atas penyediaan jasanya selama ini? ndak heran si putra petir sampai harus memaksa APU-nya dan tidak bisa berinvestasi untuk mebangun pembangkit-pembangkit baru. Saya jadi ingat dosen manajemen keuangan saya yg pernah menyalahkan saya yang waktu itu bilang bahwa perusahaan PSO tetap menyediakan jasa walaupun cost mereka jauh lebih besar dari revenue karena menurut Bapak si perusahaan tadi dapat laba dari margin tadi…lihatlah sang putra petir saat ini pak, dan saya menuruti nasehat Bapak untuk tidak berfikir secara akuntansi sekali karena secara akuntansi PLN ndak rugi hlahwong si 75T tadi pasti sudah dicatat sebagai revenue karena sudah earned walaupun masih unreallized…tapi bukankah orang manajemen keuangan selalu bilang bahwa cash is king?[dan yang terjadi adalah si PLN tidak punya cukup cash].

Kalau mau dirunut lagi, kenapa pemerintah ndak bayar-bayar hak PLN??waaah bisa jadi paper nanti posting kali ini, saya kira saudara-saudara sekalian bisa membuat kajiannya sendiri-sendiri bukan :) . Cuma yang jelas, skema penyediaan energi nasional yang jelas perlu segera dipikirkan oleh para petinggi-petinggi dan ahli-ahli kita. Ndak cukup dengan mengganti Direksi yang katanya akan segera dilaksanakan itu akan bisa mengatasi masalah. Yasalaam…mau sehebat apa juga Direksinya kalau masalah utamanya ndak dibenerin ya ndak selesai ini krisis energi. Kalau mau benerin benang yang sudah terlanjur kust bin mawut, ya ndak bisa cuma ditarik satu benang saja kan?perlu dipikirkan solusi secara komprehensif.

Sementara itu, nunggu para pejabat dan para orang pinter itu mikirin solusi krisis energi yang terbaik, kita juga bisa ikut berperan. Mulai dari hal-hal sederhana seperti menggunakan listrik seperlunya, mematikan yang tidak perlu, seperti iklannya Tante Lidya Kandauw yg sering nongol lagi tuh akhir-akhir ini. Soalnya, kata bapaknya burlian di novel abang tere liye terbaru yang baru saja selesai saya baca bilang begini:

membicarakan orang lain, menggunjingkan orang lain, itu sungguh tidak elok padahal kau memilih untuk tidak terlibat dalam prosesnya. Dan yang lebih jahat lagi, ketika seorang pemimpin terpilih, kau justru lebih asyik memperoloknya dibanding membantunya bekerja, bahkan binatang buas lebih pantas memperlakukan pemimpin kawanan mereka

[eh tapi dua kalimat terakhir sedikit tidak relevan dengan posting saat ini :P ]. Jadi saudara-saudara, mari kita melibatkan diri dalam proses…itu alat-alat elektronik yang ndak perlu sudah dimatikan?penggunaan listrik sudah dihemat?. Buat yang lagi kebagian ML, sabar ya…semoga Desember nanti janji si Bapak beneran terlaksana…

P.S

mohon maaf kalu ada fakta-fakta yang kurang relevan dan kurang menyeluruh, maklum pengetahuan penulis sangat terbatas. Kalau ada yang mau urun rembug atau bahkan mengkritik penulis monggo loh, siapa tau didenger sama orang-orang yang punya akses ke Bapak-Bapak yang punya kewenangan *nglirik nglirik mas adit ;) )*

I’m Not Surprised
Not Everything Lasts
You’ve Broken your Heart So Many Times, [and so do i]
You Stop Keeping Track.
Talk yourself In
You Talk yourself Out
You Get All Worked Up
And Then You Let Myself Down.

[and i do exactly the same :lol: ]

We Tried So Very Hard Not To Loose It
We Came Up With A Million Excuses
We Thought Of Every Possibility

And We Know Someday That It’ll All Turn Out
I’ll Make You Work So We Can Work To Work It Out
And You Promise us Kid That you’ll Give So Much More Than  you Get

you Just Haven’t Met me Yet

Mmmmm ….

You Might Have To Wait
[but] you’ll Never Give Up
I Guess It’s Half Timing
And The Other Half’s Luck
Wherever You Are
Whenever It’s Right
You Come Out Of Nowhere And Into My Life

And We Know That We Can Be So Amazing
And Baby Our Love Is Gonna Change Us
And Now You Can See Every Possibility

Mmmmm ……

And Somehow We Know That It Will All Turn Out
And I’ll Make You Work So We Can Work To Work It Out
And You Promise us Kid you’ll Give So Much More Than You  Get

I Just Haven’t Met You Yet

They Say All’s Fair
And In Love And War
But We Won’t Need To Fight It
We’ll Get It Right
And We’ll Be United

Yeah You Just Haven’t Met Me Yet

We Said Love Love Love Love Love Love Love …..
You Just Haven’t Met Me Yet
Love Love Love …..
[and dear] I Just Haven’t Met You Yet

:)

Q of the day

I am currently thinking about letting go one of my source of income, but i hardly realize that i need other source in order to do so, what do you all think that possibly might work??

your suggestion would be highly appreciate here, and thx a bunch before :)

P.S forgive me for being such a lame blogger, update about my office new staff reqruitement can be found here, i hope that would help :)

Older Posts »