who doesn’t long for someone to hold
who knows how to love you without being told
somebody tell me why i’m on my own
is there a soulmate for everyone?
Suara mba natasha bedingfield menemani sayah di tengah kebengongan mencari inspirasi untuk menyelesaikan tugas kantor. Entah karena terlalu menghayati lagunya mba nat ato entah karena saya kesambet setan lewat sedang tidak konsen, pikiran saya jadi melayang-layang ga karuan *apa kabar inspirasi??*
Saya jadi berfikir tentang konsep soulmate, belahan jiwa bahasa kerennya. Sudah digariskan bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan, dan sebagai seorang yang saya kira cukup spiritualis *walau mungkin anda menilai tidak cukup agamis* saya 100% percaya dengan konsep itu tentu saja. Dalam tatanan ideal pastinya sepasang soulmate tadi disatukan ke dalam suatu ikatan pernikahan, walau mungkin untuk beberapa orang tatanan ini tidak menjadi suatu keharusan. Mungkin hal ini yang menjadikan pernikahan menjadi suatu poin yang sangat esensial dalam lingkungan masyarakat kita, dan itu sebabnya pula hal ihwal tentang pernikahan salah seorang anggota masyarakat seringkali dianggap menjadi domain dari banyak orang dalam masyarakat itu yang kadang sering juga menimbulkan tekanan bagi pihak-pihak tertentu. *aaw aaw…bahasaku terdengar keren
*
Kapan nikah?mungkin adalah pertanyaan yang sangat kondang di telinga-telinga para insan yang dianggap cukup umur untuk menikah dan membangun biduk rumah tangga *caelah* namun masih memilih untuk hidup melajang. Namun demikian berapa batasan umur yang dianggap “pantas” tadi, sangat bervariasi tergantung dengan kultur dan lingkungan dimana kita tinggal. Tapi, walau batasan tentang kecukupan umur untuk menikah tersebut sangat bervariasi dan agak mustahil kalau mau disebutkan secara pasti, saya yakin, banyak sekali manuasia di luar sana yang saat ini dilabeli “sudah cukup umur untuk menikah“.
Salah satu dari sekian juta lajang yang punya label cukup menikah yang ada di dunia itu tadi tentunya adalah sayah! *walau saya sendiri juga tidak mengerti kenapa saya ikut-ikutan dilabeli seperti itu, faktor umur?faktor kebiasaan?faktor kepantasan?*. Masih jelas di ingatan saya *soalnya baru 2 minggu kemaren, kalo lebih mah jangan harap bakal inget* doa atau harapan yang paling laris dihadiahkan orang-orang di ulang tahun saya yang ke-24 *oh gosh, i’m old and rotten
* adalah “semoga jodohnya dekat”, “semoga cepet menikah”, “semoga cepet ketemu jodoh”, and so on, and so on. Bahkan ayah dan ibu saya dengan sangat takzim mendoakan agar anaknya ini SEGERA mendapatkan jodoh yang terbaik dan bisa mengerti serta menerima anaknya apa adanya *yang saya hanya bisa mengamini saja*.
Well, sebagai orang yang selalu mencoba untuk terbuka dengan pikiran orang-orang, saya menempatkan diri untuk menerima pendapat orang-orang tersebut dan merasionalisasikannya dengan daya nalar yang saya punya. Saya sedikit banyak paham, setidaknya dengan kultur lingkungan saya saat ini, orang-orang mempunyai suatu standar kriteria tertentu untuk bisa mengklasifikasikan seorang anak manusia sudah atau belum pantas untuk menikah. Posisi saya saat ini yang SUDAH 24 tahun, punya pekerjaan yang settle, dengan salary yang tidak bisa dibilang banyak namun alhamdulillah selalu cukup, sudah lulus S1 *oh come on, saya kan juga pengen nyicipin master ato bahkan kalo bisa doctoral degree :disambit emak pake sapu:*, cukup bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, serta telah cukup lama hidup mandiri termasuk didalamnya secara financial, membuat orang-orang men-cap saya pantas untuk segera menikah. Namun apakah hal-hal tadi lantas otomatis membuat saya BENAR-BENAR siap menikah?.
Saya sepenuhnya menyadari bahwa saya mungkin sedikit berbeda dengan teman-teman wanita saya pada umumnya. Kketika mereka sedang bermimpi nantinya akan menikah dengan orang terkasihnya dan membangun keluarga bahagia sampai akhir masa, saya malah sedang asik memikirkan nantinya saya mau menjalani karir sebagai siapa. Di saat teman-teman saya sedang sibuk berusaha mewujudkan mimpinya tadi dan atau bahkan banyak yang sudah terwujud, saya malah sedang sibuk memikirkan bagaimana cara saya bisa memenuhi my so-called-higher-education-need-in-the-name-of-self-actualization. Keadaan-keadaan tadi yang membuat pikiran tentang pernikahan terasa jauh dari jangkauan saya
.
Namun toh dengan seiring bertambahnya kedewasaan *ditabok*, saya juga berkesimpulan bahwa ada baiknya saya mendengarkan pendapat banyak orang. Mungkin memang benar sudah semestinya saya MULAI berfikir tentang mencari soulmate dan pernikahan, maksudnya apa salahnya toh. Namun ketika saya dipaksa untuk mulai berfikir tentang pernikahan, saya sampai pada kesimpulan bahwa menikah itu bukan hal yang sederhana, menikah itu rumit.
Bukan, saya bukannya mau membuat alasan terkait dengan kesiapan materi, kesiapan psikologis *biarpun yang ini penting juga sih* dan segala alasan yang katanya klise itu. Tapi bagi saya yang lebih rumit lagi adalah bagaimana menemukan soulmate-nya tadi. Bagi saya, pernikahan merupakan komitmen seumur hidup biarpun perceraian merupakan hal yang legal *tapi ya siapa yang niat nikah trus nantinya mau cerai, kecuali nikah kontrak macam sinetron di TV2*, jadi ketika saya menikahi seseorang itu berarti saya harus siap untuk hidup bersama orang itu sampai habis masa kontrak saya di bumi. Untuk bisa membuat komitmen sebesar itu yang diikat di kontrak seumur hidup *kontrak karya aja kalah*, saya perlu memastikan bahwa saya sudah memilih partner yang tepat, yang kompatibel buat saya, jadi nantinya kedua belah pihak bisa menjalankan kontrak tanpa takut akan ada wanprestasi *ditabok*.
Teori bagaimana menemukan partner yang tepat tadi juga kalau dikaji dari pengalaman-pengalaman yang ada susah dicari suatu kesimpulan yang bisa ditarik menjadi teori *bahkan hipotesa pun susah juga membuatnya*. Bagi beberapa orang yang terbekati, mereka bisa dengan sangat mudah tanpa ada tanda-tanda apa2 sebelumnya secara tiba-tiba *hasyah* bertemu dengan soulmatenya dan membuat suatu perfect happy ending together *i call it some other great luck*. Tapi ada beberapa orang juga yang sudah berusaha mati-matian dan sampai saat ini belum juga menemukan yang tepat *i call it as your turn is not yet to come
*. Tidak ada yang bisa memastikan kapan bisa ketemu, dimana, dan dengan cara apa biar bisa ketemu.
And since i’m very aware that somehow i am a little bit different with others
, maka ya saya mau ga mau harus bisa nerima dong kalo buat nyari yang kompatibel sama sayah itu agak susah. Well maybe you would call me as picky, but believe me i don’t, i don’t even have some specific criteria, all that i’m looking for is just a good connection, that’s it, ya itu tadi, kompatibilitas gitu. I’ve tried to built many connection, but when you feel like you just can’t work it out, yah kenapa harus dipaksa kan yah….ibaratnya voltasenya beda kalo dipaksa dicolokin juga yang ada malah jeblug.
But i still believe, that he must be somewhere out there, searching for me, or maybe waiting for me to find him, or waiting for the time when we finally could meet each other and write our own history. But until those time has come, believe, i could not help anything to answer your “kapan menikah” kind of question.
So if you want an answer, then i’ll give you my statement, jadi yah bapak ibu, saudara, kalo ada lagi *yang pastinya banyak sayah yakin* yang nanya “dek/mbak tyas kapan menikah?”, jangan bosan yah kalo saya jawab nanti kalau sudah ketemu jodohnya. Karena memang itu kok faktanya, dan saya juga bukan orang yang anti-marriage or commitment-phobia, when the time has come, when i find the fit one, i wont postpone anything and just let it flow. Beside that, as i always say, sayah ini bukan tipe orang yg menyusun rencana, tapi saya orang yang menyusun alternatif, dan kalau anda nanya ke saya alternatif pilihan saya untuk ke depan apa saja?saya bisa bikin list yang panjangnya naudzubillah
. Jadi bisa aja kalau tiba-tiba ga ada angin ga ada petir saya tiba-tiba kirim undangan pernikahan ke anda sekalian, asal saya sudah ketemu jodoh saya. Tapi sebelum waktu itu datang, saya hanya ingin menjalani hidup saya apa adanya dengan tanpa dibebani tekanan “kapan menikah?” tadi, sambil tentu saja mencari kesempatan untuk dapat “higher education” tadi sih
.
jadi….kalau anda, kapan mau menikah?:wink-wink:
Here we are again, circle never ends, how do i find the perfect fit?
there’s enough for everyone, but i’m still waiting in line
Lyrics by: Natasha Bedingfield-Soulmate
Photo: personal documentation